Contoh Naskah Drama Remaja

Naskah drama yang disusun secara baik, lengkap dan deskriptif sangat membantu untuk menghasilkan sebuah adegan drama yang berkesan. Begitu pula sebaliknya, jika naskah drama dibuat dengan tidak lengkap dan kurang membantu para pemeran, maka biasanya adegan yang dipertontonkan tidak akan berhasil menuai kesuksesan.

Naskah drama yang akan menjadi bahasan kita pada kesempatan posting kali ini adalah contoh naskah drama dengan topik remaja. Teks drama remaja memang sangat dibutuhkan banyak pelajar sesuai dengan tugas sekolah yang mereka dapat dari guru masing-masing.

Drama remaja dapat dimainkan oleh 2 pemeran, 3 pemeran, 6 pemeran atau lebih dari 6 pemain. Dan berikut ini adalah contoh naskah skenario drama remaja.

Lampu menyala...

Didalam sesuatu rumah. Sofa besar menghadap televisi. Meja makan. Kulkas. Pintu kamar mandi. Pintu dapur. Pintu kamar tidur. Pintu keluar masuk rumah. Pak Tiyana duduk memandang televisi. Bu Tiyana keluar dari kamar mandi.

Bu Tiyana
Tiyana telah pulang, pak ?
Pak Tiyana
Belum
Bu Tiyana
( duduk di kursi meja makan ) bagaimana ini ? Telah tiga hari ia tidak pulang.
Pak Tiyana
Kelak juga pulang
Bu Tiyana
Telah tiga hari
Pak Tiyana
Kelak juga pulang
Bu Tiyana
Ya, namun belum juga pulang, walau sebenarnya telah tiga hari. Dia itu kan wanita.
Pak Tiyana
( terus memandang televisi ) anak kita
Bu Tiyana
Iya, anak kita, namun ia wanita serta belum pulang tiga hari.

Pak Tiyana
Kelak juga pulang sendiri saat bekalnya lari sudah habis.
Bu Tiyana
Tidak segampang itu, pak, ia itu wanita !
Pak Tiyana
Bila memanglah ia wanita, ia dapat pulang.
Bu Tiyana
Namun belum…( menghentikan kata-kata, mencermati pintu keluar rumah )
Ada yang datang, kelihatannya itu Tiyana, anak kita, pulang juga ia sesudah tiga hari tidak pulang.
Pak Tiyana
Bukan hanya, tentu temannya datang melacak.
Bu Tiyana
Tentu Tiyana
Pak Tiyana
Berani taruhan
Bu Tiyana
Taruhan apa ?
Pak Tiyana
Bila bukan hanya Tiyana, lebaran th. Ini kita pulang ke rumah orang tuaku.
Bu Tiyana
Namun th. Tempo hari sudah
Pak Tiyana
Itu dikarenakan kau kalah taruhan
Bu Tiyana
Ya tidak dapat, pikirkan didalam lima th. Ini kita tidak dulu pulang ke rumah orang tuaku.
Pak Tiyana
Berani taruhan tidak ?

Bu Tiyana
( bingung ) ehm…
Pak Tiyana
Dengar langkah itu telah makin dekat.
Bu Tiyana
Baik

Terdengar ketukan pintu. Bu Tiyana buka pintu. Kecewa.

Tamu i
Permisi tante, Tiyananya ada ?
Bu Tiyana
Oh tak ada, dia belum pulang.
Tamu i
Belum pulang ? Pergi ke mana ya tante ?
Bu Tiyana
Tante juga tidak paham tuh, kamu paham.kamu mengerti tidak ?
Tamu i
Ya, bila tahu saya tidak datang tante.
Bu Tiyana
Iya juga ya. Hm, anda rekan sekolahnya ya ?
Tamu i
Bukan hanya tante, saya teman…
Pak Tiyana
( memotong ) suruh duduk dulu, cuma tukang pos yang di terima di depan pintu.
Tamu i
Terima kasih om, saya mesti kembali pulang.
Pak Tiyana
Mengapa buru-buru ?

Tamu i
Ada yang perlu buru-buru saya kerjakan
Bu Tiyana
Bila buru-buru, mengapa melacak Tiyana ?
Tamu i
Ya itu dia, tante. Dikarenakan Tiyanalah saya mesti buru-buru ?
Pak Tiyana
Masuk dulu janganlah buru-buru
Bu Tiyana
Iya masuk dulu
Tamu i
Maaf tidak dapat, saya permisi dulu.

Bu Tiyana menutup pintu. Duduk di area televisi.

Pak Tiyana
Siapa namanya ?
Bu Tiyana
Siapa ?
Pak Tiyana
Yang tadi ?
Bu Tiyana
Rekan Tiyana
Pak Tiyana
Iya, rekan Tiyana tadi namanya siapa ?
Bu Tiyana
Bermakna th. Ini kita pulang ke rumah orang tuamu lagi ?
Pak Tiyana
Jelas ! Siapa nama rekan Tiyana tadi !

Bu Tiyana
Sudahlah ke rumah orang tuaku saja. Kasihan ibu telah makin tua, dia pingin lihat kita sekeluarga kan ?
Pak Tiyana
Tidak dapat ! Kesepakatan sudah tercipta, tidak dapat dirubah. Bila terus dirubah, bagaimana menggerakkan kesepakatan itu serta untuk apa bikin kesepakatan bila tak ada kepastian untuk dikerjakan. Siapa nama rekan Tiyana tadi ?
Bu Tiyana
Tidak tahu.
Pak Tiyana
Loh
Bu Tiyana
Kok loh
Pak Tiyana
Ya, loh, bagaimana barangkali anda tidak menanyakannya ?
Bu Tiyana
Mengapa bukan hanya anda ?
Pak Tiyana
Saya kan tengah nonton televisi serta saya tidak tengah berhadapan segera dengannya.

Terdengar ketukan pintu.

Pak Tiyana
Ada yang ketuk pintu, bukahlah.
Bu Tiyana
Bagaimana bila Tiyana ?
Pak Tiyana
Ya terus di buka pintu kan ?

Terdengar ketukan pintu.

Bu Tiyana
Bukan hanya itu, bila bukan hanya Tiyana, perjanjian tadi batal.

Terdengar ketukan pintu.

Pak Tiyana
Bukalah pintu itu, kasihan tamunya.
Bu Tiyana
Bikin satu kesepakatan baru dulu.

Terdengar ketukan pintu.

Bu Tiyana
( teriak ke arah pintu ) sebentar ya, lagi menanti kesepakan nih, sabar ya.
Pak Tiyana
Ya telah, buka sana.
Bu Tiyana
Kesepakatan ?
Pak Tiyana
Yah !

Pintu terbuka. Bu Tiyana senang. Pembicaraan di depan pintu masuk rumah.

Tamu ii
Kesepakatan apa tante ?

Bu Tiyana

Ah, tidak. Anda siapa serta ada apa ?
Tamu ii
Saya temannya Tiyana, tante, kebetulan saya tengah main di tempat sini.
Bu Tiyana
Terus
Tamu ii
Ya, terus saya singgah. Dikarenakan kebetulan saya tengah main di tempat sini, lantas saya singgah kesini, tante.
Bu Tiyana
Terus
Tamu ii
Ya, dikarenakan itu tante, hm, Tiyananya ada ?
Bu Tiyana
Lantas dikarenakan kebetulan main di tempat sini, anda singgah serta melacak Tiyana ?
Tamu ii
Benar itu tante.
Bu Tiyana
Dikarenakan kebetulan ?
Tamu ii
Sesungguhnya tidak tante.
Bu Tiyana
Yang benar yang mana ?
Tamu ii
Saya memanglah melacak Tiyana, tante.
Bu Tiyana
Dikarenakan main di tempat sini ?
Tamu ii
Tidak tante, saya memanglah sengaja kemari untuk melacak Tiyana. Sumpah, tante.
Pak Tiyana
( memotong ) suruh duduk dulu, cuma tukang pos yang di terima di depan pintu.

Tamu ii masuk serta duduk di area televisi. Bu Tiyana masuk dapur.

Tamu ii
Nonton berita ya, om ?
Pak Tiyana
Tidak, hanya tengah lihat respon wakil rakyat perihal bencana yang tidak berkesudahan.
Tamu ii
Itukan berita namanya, om.
Pak Tiyana
Itu bukan hanya berita, itu opini. Opini itu pendapat, kebenarannya tetap belum dapat dihandalkan. Namanya berita mesti kebenaran, kenyataan.
Tamu ii
Namun itukan acara berita, om.
Pak Tiyana
Memanglah, beritanya, wakil rakyat tengah berikan opini.
Tamu ii
Bermakna tengah nonton berita, om.
Pak Tiyana
Tidak, saya tengah lihat opini. Ingat, opini !
Tamu ii
Bedanya apa, om ?
Pak Tiyana
Opini itu tidak murni kenyataan, namanya juga pendapat, tengah berita itu nyata, kenyataan tadi. Begini, kucing ditabrak mobil, itu berita.
Tamu ii
Bila opini ?
Pak Tiyana
Kenapa kucing itu akan ditabrak ?

Tamu ii
Barangkali saja ia tidak lihat mobil yang laju, tiba-tiba saja ia telah bersimbah darah.
Pak Tiyana
Itu dia opini.
Tamu ii
Opini ?
Pak Tiyana
Ya, opini anda. Tengok omongan wakil rakyat itu, seluruhnya serba barangkali kan ?
Tamu ii
Lantas yang serba barangkali itu bukan hanya berita ?
Pak Tiyana
Barangkali kok berita. Barangkali itu kan belum jelas tengah berita yaitu yang jelas serta tentu.
Tamu ii
Namun apa yang tentu di masa saat ini, om ?
Pak Tiyana
Ya, opini.

Bu Tiyana keluar dapur membawa teh didalam gelas menuju kulkas. Membukanya.

Tamu ii
Tak perlu yang dingin, tante, lagi batuk.
Bu Tiyana
Akan puding ?
Tamu ii
Bisa, tante.
Bu Tiyana
Namun dingin ?

Tamu ii
Tidak apa-apa, tante, kan hanya puding.

Bu Tiyana ke area televisi serta letakkan sajian lantas kembali menuju dapur.
Pak Tiyana
Anda temannya Tiyana ?
Tamu ii
Benar itu, om.
Pak Tiyana
Rekan dari tempat mana ?
Tamu ii
Ya rekan saja, om, tidak dari tempat mana-mana.
Pak Tiyana
Yang dari sekolahan, les biola, les balet, renang, atau jadi dari kelas mengaji ?
Tamu ii
Untuk yang paling akhir tampaknya bukan hanya, om.
Pak Tiyana
Kenapa ? Apa dikarenakan telah pandai mengaji ?
Tamu ii
Tidak om, saya non muslim.
Pak Tiyana
Oh demikian, terus dari tempat mana ?
Tamu ii
Saya rekan Tiyana dari area nongkrong, om.
Pak Tiyana
Seingat saya Tiyana tidak mengambil les nongkrong.
Tamu ii
Om, lucu juga. Area nongkrong itu area kita kumpul-kumpul, ya, arti kerennya terlibat perbincangan atau berdiskusi.

Pak Tiyana
Oh demikian, namun yang nongkrong itu kan pastinya datang dari area spesifik. Nah, anda itu tak hanya rekan nongkrong Tiyana, rekan dimana ?
Tamu ii
Ya tak ada, om. Saya hanya rekan Tiyana di area nongkrong.
Pak Tiyana
Terlampau tidak tebal, pertemanan itu belum demikian kuat. Hm, lantas maksud anda melacak Tiyana ?
Tamu ii
Ya itu dia om, saya mau tahu perihal apa yang berlangsung dengan Tiyana. Telah tiga hari ia tidak nampak, om.
Pak Tiyana
Memangnya mengapa bila ia tidak nampak didalam tiga hari ?
Tamu ii
Ya itu dia, om.
Pak Tiyana
Apa ?
Tamu ii
Ehm, dia bawa suatu hal yang mutlak, om. Suatu hal yang amat saya banggakan.
Pak Tiyana
Oh demikian. Mutlak sekali ?
Tamu ii
Amat mutlak jadi, om.
Pak Tiyana
Tiyana mengambilnya dari anda ?
Tamu ii
Begitulah om, saya jadi tidak paham bagaimana berlaku bila tak ada kabar dari Tiyana.

Pak Tiyana
Banyakkah ?
Tamu ii
Ya bila besar itu dikira banyak, ya, banyak om.
Pak Tiyana
Begini saja, anda pulang dulu, besok anda kembali lagi. Yang anda punya itu tentu dapat kembali.
Tamu ii
Namun Tiyananya bagaimana om ?
Pak Tiyana
Itu urusan saya.
Tamu ii
Bila memanglah demikian, pastinya dengan ada kepastian dari om, saya jadi meyakini untuk datang besok.
Pak Tiyana
Ya, ya, pulanglah.

Tamu ii pergi, bu Tiyana masuk.

Pak Tiyana
Anakmu membawa lari duit temannya ?
Bu Tiyana
Bagaimana dapat ?
Pak Tiyana
Temannya yang datang tadi, yang terlampau banyak bicara itu, melaporkan apa yang sudah dikerjakan anakmu.
Bu Tiyana
Anak kita

Pak Tiyana
Ya, anak kita. Pencuri.
Bu Tiyana
Belum pasti benar, janganlah terlampau banyak yakin dengan orang yang terlampau banyak bicara.
Pak Tiyana
Namun bagaimana dapat kita yakin dengan orang yang sedikit bicara, dari tempat mana kita ketahui isi kepalanya bila tidak dikeluarkannya.
Bu Tiyana
Terlampau banyak bicara jadi menyingkirkan kalimat kunci, kata yang semestinya dapat jadi andalan.
Pak Tiyana
Tanpa bicara, keyword itu jadi tidak keluar, bagaimana dapat ia terlihat ?
Bu Tiyana
Namun kenapa kau demikian yakin dengan anak ingusan yang terlampau banyak bicara itu ?
Pak Tiyana
Dikarenakan tampaknya benar, telah tiga hari Tiyana lalu tidak nampak di area biasa mereka bersua.
Bu Tiyana
Bagaimana bila benar ?
Pak Tiyana
Kita mesti menggantinya, tidak dapat tidak, Tiyana kan anak kita.
Bu Tiyana
Bila tidak benar ?
Pak Tiyana
Akan taruhan ?

Lampu padam

Dua

Lampu menyala. Didalam sesuatu rumah. Sofa besar menghadap televisi. Meja makan. Kulkas. Pintu kamar mandi. Pintu dapur. Pintu kamar tidur. Pintu keluar masuk rumah. Pak Tiyana duduk memandang televisi. Bu Tiyana keluar dari kamar mandi.

Bu Tiyana
Tiyana telah pulang, pak ?
Pak Tiyana
Belum
Bu Tiyana
( duduk di kursi meja makan ) bagaimana ini ? Telah empat hari ia tidak pulang.
Pak Tiyana
Kelak juga pulang
Bu Tiyana
Tempo hari kau jawab layaknya itu juga, tidak tempo hari saja, kemarinnya lagi serta kemarinnya lagi juga.
Pak Tiyana
Terus mesti bagaimana ? Berteriak, mengabarkan pada seluruh orang bahwa anak kita yang wanita tidak pulang didalam empat hari ini. Bagaimana kata dunia ? Apa kata mereka pada kita ? Orang tua yang tidak bertanggung jawab ?
Bu Tiyana
Tampaknya kita memanglah tidak bertanggung jawab.
Pak Tiyana
Kok dapat ?
Bu Tiyana
Lihatlah sendiri ! Apa yang kita kerjakan pada anak kita ? Empat hari, pikirkan empat hari anak kita tidak pulang, tak ada usaha kita untuk mencarinya.
Pak Tiyana
Menanti juga melacak.

Bu Tiyana
Menanti itu pasrah
Pak Tiyana
Berbeda, pasrah itu tanpa berbuat. Mununggu itu kan berbuat, sama layaknya berdoa.
Bu Tiyana
Apa yang dikerjakan saat menunggu ? Diam memandang televisi atau repot terlibat perbincangan tanpa tujuan ?
Pak Tiyana
Bila kita ke kantor polisi serta melaporkan kehilangan anak, terus apa yang kita kerjakan ? Menanti kan ? Menanti kabar dari pak polisi itu. Serta saat menunggu kabar dari pak polisi, kita juga melihat televisi atau terlibat perbincangan kemana senang kan ? Sama juga.
Bu Tiyana
Beda
Pak Tiyana
Apanya yang lain ? Bila kita menempatkan iklan perihal kehilangan, sama saja layaknya melapor ke polisi. Bila kita melacak sendiri, sama saja dengan menanti kabar kan ? Kita melacak itu tanpa tujuan, kita tidak paham dimana anak kita ada, lantas sama saja dengan 0. Kita terus juga menanti. Dari pada kita melingkari kota, pastinya habis daya, toh tambah baik kita di rumah. Seluruhnya itu bermakna menanti, melacak itu juga menanti. Menanti juga melacak. Jelas !
Bu Tiyana

Menanti itu pasrah
Pak Tiyana
Berbeda, pasrah itu tanpa berbuat. Mununggu itu kan berbuat, sama layaknya berdoa.
Bu Tiyana
Apa yang dikerjakan saat menunggu ? Diam memandang televisi atau repot terlibat perbincangan tanpa tujuan ?
Pak Tiyana
Bila kita ke kantor polisi serta melaporkan kehilangan anak, terus apa yang kita kerjakan ? Menanti kan ? Menanti kabar dari pak polisi itu. Serta saat menunggu kabar dari pak polisi, kita juga melihat televisi atau terlibat perbincangan kemana senang kan ? Sama juga.
Bu Tiyana
Beda
Pak Tiyana
Apanya yang lain ? Bila kita menempatkan iklan perihal kehilangan, sama saja layaknya melapor ke polisi. Bila kita melacak sendiri, sama saja dengan menanti kabar kan ? Kita melacak itu tanpa tujuan, kita tidak paham dimana anak kita ada, lantas sama saja dengan 0. Kita terus juga menanti. Dari pada kita melingkari kota, pastinya habis daya, toh tambah baik kita di rumah. Seluruhnya itu bermakna menanti, melacak itu juga menanti. Menanti juga melacak. Jelas !
Bu Tiyana
Pusing saya. Bila kita ketahui dimana Tiyana ada kan gampang, dapat kita jemput.
Pak Tiyana
Itu dia kata yang pas. Menjemput. Menjemput itu jelas lain dengan melacak atau juga menanti.
Bu Tiyana
Namun kita tidak paham dimana Tiyana ada ?

Pak Tiyana
Yah mesti dicari
Bu Tiyana
Dengan ?
Pak Tiyana
Ya menanti.

Terdengar ketukan pintu

Pak Tiyana
Bagaimana ini, ini tentu rekan Tiyana yang banyak bicara tempo hari itu.
Bu Tiyana
Yang uangnya Tiyana curi itu ?
Pak Tiyana
Bagaimana ini, apa yang perlu kita kerjakan.
Bu Tiyana
Kita bayar saja
Pak Tiyana
Namun kita belum ketemu Tiyana, mungkin berita ini tidak benar.

Terdengar ketukan pintu

Bu Tiyana
Bila belum benar, janganlah dibayar dulu
Pak Tiyana
Namun kita belum tahu mana yang benar. Mengapa Tiyana belum pulang juga.

Terdengar ketukan pintu
Bu Tiyana
Bagaimana bila dia datang dengan polisi.

Terdengar ketukan pintu
Pak Tiyana
Bukahlah pintu
Bu Tiyana
Kau saja
Pak Tiyana
Kau kan perempuan
Bu Tiyana
Kau kan laki-laki
Pak Tiyana
Wanita duluan, atas nama kesopanan.

Terdengar ketukan pintu

Bu Tiyana
( teriak ke arah pintu masuk ) sebentar ya.
Pak Tiyana
Bukalah pintunya ( lari kecil menuju depan televisi, seakan-akan tidak berlangsung suatu hal )

Pintu terbuka. Bu Tiyana bingung.

Tamu i
Maaf tante, Tiyananya telah pulang ? Belum ya ? Ya sudahlah, kelak saya datang lagi. Terima kasih tante. Tolong kelak bila Tiyana pulang, katakan saja saya melacak serta dapat kembali lagi. Permisi tante. ( pergi menghilang )

Pak Tiyana
Suruh duduk dulu, cuma tukang pos yang di terima di depan pintu.
Bu Tiyana
Telah pulang ( menutup pintu serta jalan menuju area televisi ) tamunya telah pulang.
Pak Tiyana
Tukang pos ?
Bu Tiyana
Bukan hanya, temannya Tiyana ?
Pak Tiyana
Yang tempo hari ?
Bu Tiyana
Ya
Pak Tiyana
Terus dia menagih uangnya ? Apa yang kau katakan sampai dia segera pulang.
Bu Tiyana
Saya tidak katakan apa-apa serta dia bukan hanya yang uangnya dicuri Tiyana.
Pak Tiyana
Lantas rekan yang mana ?
Bu Tiyana
Yang pertama datang, yang lupa kutanyakan namanya.
Pak Tiyana
Telah tahu kau namanya ?
Bu Tiyana
Belum, dia terlampau buru-buru. Belum pernah saya bicara dia telah pergi.
Pak Tiyana
Tampaknya dia memanglah senantiasa buru-buru. Tunggulah dulu, siapa nama rekan Tiyana yang banyak bicara itu ?

Bu Tiyana
Mengapa kau tanyakan saya, bukankah kau yang banyak bicara dengannya ? Semestinya kau tanyakan namanya.
Pak Tiyana
Itu dia, dia terlampau berlama-lama hingga saya lupa bertanya, walau sebenarnya saya telah berhadapan segera dengannya.
Bu Tiyana
Sudahlah. Sekurang-kurangnya bukan hanya dia yang datang lantas kita tak perlu kuatir lagi.
Pak Tiyana
Untuk sementara
Bu Tiyana
Walau sesaat, sekurang-kurangnya tidak kuatir.

Lampu padam

Tiga

Lampu menyala. Didalam sesuatu rumah. Sofa besar menghadap televisi. Meja makan. Kulkas. Pintu kamar mandi. Pintu dapur. Pintu kamar tidur. Pintu keluar masuk rumah. Bu Tiyana duduk memandang televisi. Pak Tiyana keluar dari kamar mandi.

Pak Tiyana
Telah nyaris sore, hari keempat sejak tidak pulang, apakah Tiyana tak lagi pulang lagi ?
Bu Tiyana
Belum lima hari
Pak Tiyana
Nyaris lima hari, lihatlah telah mendekati senja. Bila matahari terbenam serta terbit lagi, pas lima hari Tiyana tidak pulang. Apakah bekal larinya tetap cukup ?
Bu Tiyana
Kenapa kau cemas ?
Pak Tiyana
( menuju pintu keluar masuk rumah, membukanya, menegok keluar serta menutupnya kembali ) belum pulang juga.

Terdengar ketukan pintu. Pak Tiyana segera buka. Tersenyum suka.

Pak Tiyana
Pulang juga rupanya kau Tiyana
Tiyana
Lapar ( jalan menuju dapur, keluar lagi sembari membawa piring makanan, makan di meja makan. )

Bu Tiyana
( mendekat serta segera duduk di samping Tiyana ) makanlah yang banyak, pastinya kau lapar.
Pak Tiyana
( mendekat serta segera duduk di samping Tiyana ) dari tempat mana saja ?
Bu Tiyana
Janganlah ditanyakan dulu, biarlah dia makan dengan tenang. Telah nyaris lima hari dia ada di luar, rindu dengan rumah ini pastinya.
Pak Tiyana
Banyak temanmu yang datang.
Bu Tiyana
Janganlah dikatakan dulu, agar dia makan dengan nyaman, telah lima hari dia di luar, banyak bersua orang pastinya, semakin banyak dari kawannya yang datang. ( jalan menuju kulkas serta mengeluarkan botol air dingin, menuangkan ke gelas Tiyana ) dari tempat mana saja kau Tiyana ?
Pak Tiyana
Mengapa kau tanyakan ?
Tiyana
Dari rumah rekan ( terus makan )
Pak Tiyana
Temanmu yang mana ? Yang dari sekolahan, les biola, les balet, renang, kelas mengaji, atau jadi rekan nongkrong ?
Bu Tiyana
Ya, yang mana ?
Tiyana
Rekan lain
Pak Tiyana
Tetap ada temanmu yang lain rupanya.
Bu Tiyana
Rekan yang mana ?

Tiyana
Mengapa terlampau mengurusi sih ? Bukannya sepanjang ini saya bebas, layaknya yang kalian kehendaki. Kenapa kalian ajukan pertanyaan saat saya menghilang, kenapa tidak melacak ? Lantas, apakah kalian dulu bertanya saya sekolah apa tidak ? Serta, untuk apa les yang mahal-mahal itu, bukan hanya untukku kan ? Untuk kalian yang gila gengsi tanpa memikirkan kebutuhanku kan ? ( berdiri, membawa makanan, duduk di depan televisi sembari terus makan. )
Pak Tiyana
( berbisik ) bagaimana ini ?
Bu Tiyana
( berbisik juga ) bagaimana apanya ?
Pak Tiyana
Dia terlampau tertutup, kita mesti dapat membukanya. Kenapa kita yang disalahkan ? Kita kan cuma bertanya temannya saja. ( mendekati Tiyana ) enak makannya ?
Tiyana
Biasa saja
Bu Tiyana
( mendekati Tiyana ) pastinya enak, ibu sengaja masak buat kamu.
Tiyana
Sejak kapan masak spesial ? ( jalan menuju dapur, masuk ke dalamnya )
Bu Tiyana
( berbisik ) tidak sukses. Tampaknya dia memanglah marah pada kita.
Pak Tiyana
( berbisik juga ) kita mesti lebih berupaya lagi.

Tiyana keluar dari dapur tanpa membawa sebarang lalu. Bu Tiyana serta pak Tiyana mendekat, persisi menghambat jalur Tiyana yang tetap ada di depan pintu.

Pak Tiyana
Telah selesai makannya ?
Bu Tiyana
Enak kan ? Tentu kenyang.
Tiyana
( menghindar serta jalan menuju kamar tidur ) akan tidur
Pak Tiyana
( mengejar sampai depan pintu kamar tidur ) belum malam
Bu Tiyana
( turut mengejar ) iya, belum malam, mari kita terlibat perbincangan dulu.

Tiyana masuk kamar. Pintu tertutup. Bu Tiyana serta pak Tiyana duduk di kursi meja makan.

Bu Tiyana
Apa karena dia demikian dingin
Pak Tiyana
Barangkali kita terlampau kaku
Bu Tiyana
Kau yang kaku
Pak Tiyana
Barangkali kau juga.

Terdengar ketukan pintu

Pak Tiyana
Tentu temannya yang banyak bicara itu, yang uangnya dicuri Tiyana, bagaimana ini ? Kita belum bicara perihal itu dengan Tiyana.
Bu Tiyana
Barangkali temannya yang lain.

Terdengar ketukan pintu
Bu Tiyana
Kau saja yang buka, terserah itu melangkahi kesopanan.
Pak Tiyana
( malas buka pintu, sampai hingga depan pintu, menoleh ke bu Tiyana dengan bingung ) baiknya kau saja.

Terdengar ketukan pintu. Pak Tiyana terperanjat serta segera buka pintu. Makin terperanjat lihat tamu yang datang.

Tamu ii
Terperanjat, om.
Pak Tiyana
( gagap ) tidak, tidak. Ayo masuklah.

Bu Tiyana menyingkir ke dapur. Pak Tiyana serta tamu ii duduk menghadap televisi.

Tamu ii
Saya tidak kebetulan main ke tempat sini, om. Saya spesial datang layaknya keinginan, om, tempo hari itu. Lantas terasa tak perlu basa-basi lagi…
Pak Tiyana
( memotong ) basa-basi itu kadang-kadang butuh. Ayolah berbasa- basi.
Bu Tiyana
( nampak membawa segelas minuman hangat ) iya, mengapa mesti segera bila kita dapat berbasa-basi terlebih dulu.
Tamu ii
Wah, tampaknya dapat ada lampu hijau nih.
Pak Tiyana
Bukan sekedar bisa segera jalur, ini jalur tol lantas dapat sekencang apa juga.

Tamu ii
Bisa ngebut ?
Pak Tiyana
Oh pasti, asal gunakan pengaman agar tidak kecelakaan.
Tamu ii
( tertawa ) ini dia calon mertua yang sangat hebat.
Bu Tiyana
Mertua ?
Pak Tiyana
Ada apa dengan mertua ?
Tamu ii
( bingung ) tuturnya bisa segera ngebut ?
Pak Tiyana
( bingung juga ) tunggulah dulu. Begini saja, kita buang dulu basa-basi. Apa maksudnya ini ? Mertua serta ngebut, hubungannya apa ?
Tamu ii
Loh, bukankah telah jelas om, ini masalah suatu hal yang saya punyai itu, yang dibawa Tiyana.
Bu Tiyana
Ya terus.
Tamu ii
Bukankah hari ini dapat saya dapatkan lagi, layaknya janji om tempo hari.
Bu Tiyana
Duit kan ?
Pak Tiyana
Ya, berapakah yang dicuri dari anda ?
Bu Tiyana
Problem besarnya tak perlu kuatir, kami dapat bayarkan seluruhnya, bagaimanapun Tiyana itu anak kami, lantas mustahil kami membiarkannya mengambil duit anda.

Pak Tiyana
Ya benar itu.
Bu Tiyana
Tunggulah dulu, agar seluruhnya jelas ( jalan menuju kamar Tiyana ) Tiyana ! Keluar anda, nak.
Tamu ii
Tunggulah dulu, tante…
Bu Tiyana
Tenang, agar jelas saja.
Tamu ii
Tapi…
Pak Tiyana
Tenang saja
Bu Tiyana
Tiyana !
Tiyana
( keluar dengan muka jemu, jadi tambah jemu demikian lihat tamu ii ) ada apa ?
Bu Tiyana
Ayo, ada yang perlu kita kerjakan. ( menggiring Tiyana ke depan televisi )
Tamu ii
( tersenyum manis ) hai len.
Tiyana
( senyum masam ) ada apa ?
Pak Tiyana
Tenang, enjoy seluruhnya. Begini, baiknya kita cari info yang sesungguhnya. Bu, kau saja yang bicara.
Bu Tiyana
Tiyana, rekan anda ini tempo hari telah datang, namun dikarenakan anda belum pulang, kami suruh dia datang saat ini. Nah, dia ini datang untuk menghendaki suatu hal yang anda bawa, begitulah.

Pak Tiyana
Ya, dengan kata lain ia datang untuk menagih suatu hal yang sudah kau curi. Nah, berapakah jumlahnya, nak, berapakah yang kau ambillah darinya.
Tamu ii
( panik ) tunggulah dulu…
Pak Tiyana
Telah anda janganlah bicara dulu. Berapakah Tiyana ?
Tiyana
( bingung ) Tiyana tidak mengambil apa-apa. Hey ( menunjuk tamu ii ) anda janganlah sembarangan menuduh saya pencuri ya ! Hingga datang ke rumah lagi !
Bu Tiyana
Sabar nak, tenang. Katakan saja jumlahnya, agar kita ubah. Janganlah takut kami marah. Sungguh kami tak lagi marah.
Pak Tiyana
Ya katakan saja, agar seluruhnya jelas.
Tiyana
Ahk, bagaimana ini ! Tiyana tidak mengambil, sumpah. Tanyakan saja sama dia. ( duduk dengan sewot )
Tamu ii
Waduh, bagaimana ini, mengapa dapat kacau. Begini saja, om, saya permisi, anggap saja tidak berlangsung apa-apa. ( bergerak pergi )
Pak Tiyana
( menahan ) bagaimana anda ini, bukannya anda pingin mengambil yang sudah dicuri Tiyana ?
Tamu ii
Sudahlah om, tidak apa-apa, biarlah saja.
Bu Tiyana
Tidak dapat demikian. Begini saja, berapakah yang dicuri Tiyana ?
Tiyana
Ya berapakah yang kucuri ! Cepat katakan !

Tamu ii
( takut ) tak ada…
Pak Tiyana
Apa !
Tamu ii
Tiyana tidak mengambil duit, om. Sejak tadi serta jadi tempo hari saya telah pingin terangkan namun om tidak ingin mendengar. Saya pikir om telah tahu dengan yang saya maksud.
Pak Tiyana
Kok jadi menyalahkan.
Tamu ii
Benar, om. Saya telah cobalah terangkan. Tiyana tidak mengambil duit tapi…
Bu Tiyana
Namun apa ? Hp, perhiasan, atau apa ?
Tamu ii
Bukan hanya itu tante.
Bu Tiyana
Lantas apa ? Bicara yang jelas !
Tamu ii
( malu ) Tiyana mengambil hati saya, tante. Dengan kata lain, saya itu suka sama Tiyana namun Tiyananya belum berikan jawaban.

Terdengar ketukan pintu. Seluruhnya terperanjat.

Pak Tiyana
Siapa lagi itu, bukalah pintunya, Tiyana anda yang buka.

Pintu terbuka. Tiyana tertawa.
Tiyana
Saya baru saja pulang, anda bolak-balik ya melacak saya ?

Tamu i
Kurang ajar, bila utang cepat bayar dong !
Tiyana
Ala, gitu saja sewot.
Pak Tiyana
Suruh duduk dulu, cuma tukang pos yang di terima di depan pintu.
Bu Tiyana
Siapa len ?
Tiyana
Teman
Bu Tiyana
Bawa temanmu ke didalam, tidak baik terus di depan pintu.
Tamu i
Terima kasih tante, disini saja.
Pak Tiyana
Masuklah, agar saling bersua seluruhnya.
Tiyana
Ayolah masuk
Tamu i
Bayar dulu utangmu, ini urusan kita berdua.
Tiyana
Iya, kelak didalam.
Tamu i
Tapi…
Tiyana
Tak ada alasan ( menggandeng tamu i )

Seluruhnya berkumpul di depan televisi

Bu Tiyana
Oh, rupanya anda. Len, temanmu ini bolak-balik melacak anda.
Tamu i
Maaf tante, merepotkan.
Pak Tiyana
Ah, tak ada apa-apa. Mengapa tampak demikian mutlak, ada apa ini ?
Tamu i
Tak ada apa-apa, om, hanya sebatas singgah.
Pak Tiyana
Bila hanya sebatas bermakna tidak berulang, benar tidak ?
Tamu ii
Bila demikian saya pulang lebih dulu saja, om.
Pak Tiyana
Anda disini dulu, problem yang tadi belum selesai.
Tiyana
Problem apa lagi ?
Bu Tiyana
Tiyana, anda kan belum mengembalikan duit yang anda curi dari dia.
Tamu i
Anda mengambil duit, len ?
Tamu ii
Tidak… tidak, wah serba salah seluruhnya.
Pak Tiyana
Sudahlah, mari kita kerjakan. Tiyana, katakan saja berapakah yang kau ambillah dari dia ?
Tiyana
( marah ) mengapa tidak ada yang yakin ! Tiyana tidak dulu mengambil uangnya !
Tamu ii
Iya, om. Tiyana tidak mengambil duit saya.

Tiyana
Dengar itu ! Tiyana tidak dulu mengambil ! Tiyana hanya meminjam duit.
Tamu ii
Kapan ?
Tiyana
Bukan hanya anda !
Tamu i
Tidak, om. Tidak, tante. Tiyana tidak dulu meminjam duit.
Tiyana
Hey !
Pak Tiyana
Tunggulah dulu, ada apa ini ?
Bu Tiyana
Ya, yang benar yang mana ? Mengambil atau meminjam, lantas duit siapa yang dicuri atau dipinjam ?
Tamu i
Bukan hanya duit saya.
Tiyana
Hey !
Tamu ii
Telah jelas, saya tak ada hubungan dengan duit. Layaknya yang telah terkatakan tadi, hati saya yang dicuri.
Bu Tiyana
Bermakna duit anda ? Berapakah ?
Tamu i
Tak ada, tante.
Tiyana
Hey ! Janganlah bohong anda. Saya pinjam duit anda sekian hari yang lantas sebagai bekal lari dari rumah. Serta, bukankah anda datang kemari untuk menagihnya ?

Bu Tiyana
Bekal lari ?
Pak Tiyana
Lari dari tempat mana, nak ?
Tiyana
Tengok, lihatlah orang tuaku ini kawan-kawan. Saya lari dari rumah lalu mereka tidak paham. Yang mereka pikirkan seluruh baik-baik saja. Saya benci ! ( marah mendekati menangis )
Tamu i
Saya tidak paham, saya pinjami anda duit bukan hanya karenanya. Bila saya tahu anda pinjam duit untuk lari, saya tidak beri pastinya.
Tamu ii
Anda lari dari rumah ? Mengapa tidak katakan padaku, len. Saya, ah…
Tamu i
Mengapa, anda akan membantunya lari kan !
Tiyana
Diam kalian ! Kalian ( memandang orang tua ) lihatlah anak kalian ini ! Apakah kalian hafal tiap-tiap tahi lalatnya ? Apa kalian tahu yang diinginkannya ? Pandang saya melewati mataku janganlah pandang saya dengan mata kalian !
Bu Tiyana
Mengapa anda mesti lari, nak. Bukankah hidup di luar itu lebih beresiko.
Pak Tiyana
Bila memanglah pingin lari, anda kan dapat permisi dulu, tak perlu anda pinjam duit kawan.
Tiyana
Ini bukan hanya piknik…( menangis )

Bu Tiyana serta pak Tiyana segera mendekati Tiyana.

Tamu i
( menarik tamu ii ke sudut lain ) urusan keluarga, baiknya kita menyingkir.
Tamu ii
Kita mesti permisi dulu
Tamu i
Bila situasinya layaknya ini, baiknya tak perlu.
Tamu ii
Uangmu…
Tamu i
Sudahlah…

Tamu i serta tamu ii pergi dengan cepat. Tangis Tiyana makin jadi.

Pak Tiyana
Diamlah, janganlah menangis. Duit yang anda pinjam dapat kita ubah. ( mengerti tamu i serta tamu ii sudah hilang ) bagaimana ini, mereka sudah hilang. Uangnya belum kita ubah.
Tiyana
( sembari menangis ) bukan hanya uang…
Pak Tiyana
Bila demikian kenapa menangis ?
Bu Tiyana
Diamlah, janganlah menangis terus. Kami bingung, len. Ceritalah, nak.
Tiyana
Tiyana tidak pulang sepanjang ini dikarenakan Tiyana jadi tidak punya rumah.
Bu Tiyana
Tidak punya rumah ?

Tiyana
Ya, rumah ini segala nya dihitung dengan duit, tak ada perbincangan yang menyenangkan. Kalian repot serta Tiyana lalu repot sendiri. Tak ada yang cermati. Tiyana benci. Tiyana perlu rumah yang betul-betul rumah !
Bu Tiyana
( menangis ) maaf ya, nak. Barangkali sepanjang ini kami tidak mencermati anda, seluruhnya senantiasa dihitung dengan duit. Rumah ini rumah anda, rumah yang kami bebaskan untukmu, kami tidak mau mengekang, kami rasa itu yang baik.
Pak Tiyana
Membebaskan anda bukan hanya bermakna tidak perhatian. Dulu kami dikekang orang tua kami serta kami tidak senang, maka kami pingin anda tidak layaknya kami.
Tiyana
( lari masuk kamar ) semestinya kalian lantas orang tua yang betul-betul orang tua !
Musik perlahan, sahydu demikian merasa. Bu Tiyana terus menangis.
Bu Tiyana
Kita salah mendidiknya…
Pak Tiyana
Sesungguhnya kita bermaksud baik, namun salah juga…
Bu Tiyana
Kita mesti bagaimana ? Membebaskannya salah, mengekangnya juga dapat salah…
Terdengar ketukan pintu
Bu Tiyana
Siapa lagi ?
Terdengar ketukan pintu. Pak Tiyana menuju pintu serta membukanya.
Bu Tiyana
Siapa lagi ?

0 comments

Posting Komentar